Archive for November, 2005

Kehamilan Anak Pertamaku

Tuesday, November 29th, 2005

Tak lama setelah menikah aku hamil, saat tahu hamil suamiku sedang berada di Amerika…sedih sih, tapi udah komitmen, ternyata kehamilan pertamaku ini tidak sukses, dokter menyebutnya blight ovum alias janin gak berkembang dan harus dikuret..sedih lagi..tapi aku ambil hikmahnya..barangkali memang harus begitu jalan yg diberikan oleh Allah.

Tak lama kemudian aku menyusul suamiku berangkat ke Amerika, Alhamdulillah.. tak perlu menunggu waktu lama 2 bulan setelah dikuret aku diberi karunia lagi oleh Allah, hamil. Kejadiannya cukup unik, kira2 setelah satu bulan sampai kog aku belum mens2 yah.. tadinya aku dan suami mo beli test pack, tapi waktu ke apotik dan tahu harganya mahal (kalo gak salah yg paling murah US$ 30), akhirnya gak jadi beli, mo ke dokter apalagi, toh belum pasti banget. Gak sengaja suatu kali aku melihat sebuah tulisan besar di suatu gedung "free pregnancy test", wah boleh juga nih pikirku, tapi aku belum terlalu peduli. Sampai sekitar dua bulan aku belum mens2 juga, akhirnya baru kepikiran mo datang ke tempat itu. Rupanya yg mengadakan tes kehamilan gratis ini suatu yayasan sosial wanita. Tes ini benar2 gratis, aku tidak dipungut bayaran sedikit pun. Waktu di tes, ternyata hasilnya negatif…wah agak2 sedih juga tapi menurut petugas di sana barangkali hasilnya belum keliatan, aku pun disuruh kembali ke sana 3 minggu kemudian. Saat balik lagi 3 minggu berikutnya baru hasilnya positif, wah aku seneng banget, suamiku pasti seneng banget nih, petugas di sana memperkirakan kehamilanku ini sekitar 10 minggu.

Kali ini aku berusaha berhati-hati..rupanya masih dikasih cobaan lagi..aku pendarahan..dan pergi ke rumah sakit, di sini baru ketahuan persisnya usia kehamilanku sekitar 6 minggu. Alhamdulillah gak terjadi apa2… Kejadiannya hampir berbarengan dengan kasus WTC dan Pentagon, kebetulan aku tinggal tak jauh dari Pentagon kira2 10 menit perjalanan, bahkan getarannya terasa.

Kehamilanku ini termasuk tidak menyulitkan..kalo org Indo bilang hamil kebo.. aku tidak merasakan mual2 apalagi muntah.. bahkan ngidam pun nggak.. yg lucunya suamiku yg mengalami semua itu..tiap pagi ia mual2…ngidam makanan aneh2..aku justru santai aja…cuma agak malas makan…tapi yg ini sih sebenarnya antara malas dan menjaga berat supaya nggak terlalu overweight sih…yah supaya bayinya gak kegedean juga…kan kalo kegedean ngelahirinnya agak lebih repot..

Secara rutin aku periksa kehamilan pd klinik yg ditunjuk, klinik ini gratis, aku tidak dipungut bayaran sedikit pun, kecuali untuk pemeriksaan USG yg merupakan pemeriksaan tersendiri atas rujukan dokter dan biasanya diadakan di RS. Nama klinik ini aku lupa, tapi yg aku ingat lokasinya di Wilson Boulevard, Arlington, Virginia. Di Klinik ini ada dokter kandungan dan ahli gizi. Prosedur periksa kehamilan di sana cukup bagus, tiap kali periksa selalu dites urin, tujuannya untuk melihat kadar protein dan bbp hal lain (lupa), setelah tes urin baru periksa dokter, pd saat periksa dokter punya catatan kehamilan dan standar kuesioner yg harus ia isi dan ditanyakan pdku, isinya antara lain ttg gerakan janinku dalam sehari, seberapa sering bergerak, tiap kapan bergerak, ada tidaknya keluhan.

Setelah selesai harus langsung menemui ahli gizi, disini oleh ahli gizi diminta untuk mengisi kuesioner ttg makanan apa yg dikonsumsi tiap hari, misalnya jenis sayur2an berapa kali sehari, jenis protein berapa kali sehari, jenis karbohidrat, susu, jus, minum, semua yg kita makan ditanyakan. Selanjutnya berdasarkan kuesioner itu ahli gizi akan memberikan kita saran apa2 aja yg kurang kita konsumsi dan sebaiknya ditingkatkan, berapa kali sebaiknya kita mengkonsumsi suatu makanan atau minuman. Seperti susu minimal 3 gelas sehari, jus bisa 2 atau 3 gelas (tidak terlalu wajib).

Setelah di ahli gizi, aku kembali ke bagian administrasi, di sini aku dijadwalkan utk konsultasi selanjutnya. Biasanya utk kehamilan 0 minggu - 27 minggu pemeriksaan hanya sebulan sekali, tetapi memasuki 28 minggu pemeriksaan ditingkatkan menjadi dua minggu sekali. Memasuki minggu ke 32 pemeriksaan ditingkatkan lagi menjadi satu minggu sekali sampai melahirkan.

Setelah selesai di bagian administrasi biasanya akan diberikan 1 botol Prenatal Vitamin isi 100, gratis juga. Vitamin ini kandungannya lengkap banget, ada Folic acid (asam folat), Iron (zat besi), kalsium, vit A, vit D, dan bbp vitamin lainnya yg diperlukan oleh ibu yg akan hamil, hamil, dan menyusui. Berhubung vitamin ini sudah lengkap, dokter/klinik tidak memberikan vitamin apa-apa lagi. Jadi dalam sehari aku hanya perlu mengkonsumsi 1 butir vitamin, ya prenatal vitamin.

Prosedur2 tersebut dilakukan tiap kali periksa. Berhubung klinik ini cuma buka siang hari, dan waktu periksanya memakan waktu lama, aku hampir gak pernah periksa ditemani suami, paling2 cuma diantar sampai tempat, pulangnya kadang2 dijemput, kadang2 pulang sendiri naik bis.

Klinik ini juga merekomendasikan aku untuk ikut program WIC (woman infant child), tiap sebulan sekali aku mendapat semacam kupon/voucer yg berisi daftar makanan yg dapat ditukar gratis di bbp supermarket yg ditunjuk. Tiap minggu aku mendapat 1 galon susu isi 2 liter, 1-2 kg keju, sayur2an, telur, tuna kalengan, kacang2an, bermacam jus, selai kacang. Kadang2 saking banyaknya, semua itu gak aku habiskan sendiri. Maklum, tiap minggu dapat segitu banyak makanan, paling2 yg aku pasti habiskan sendiri cuma susu.

Sampailah aku pada usia kehamilan 35 minggu, kali ini tempat periksa bukan lagi di klinik tapi RS Arlington Hospital. Setelah pemeriksaan dokter menyatakan bahwa kemungkinan bayiku sungsang. Dokter menyebutkan ada kemungkinan berubah karena ini masih 35 minggu, dia akan melihat perkembangannya tiap minggu sampai kehamilan 37 minggu. Jika belum berubah terpaksa ia harus mengambil keputusan untuk melakukan caesar pd kehamilan 38 minggu. Wah..pernyataan dokter ini bikin aku shock booooo. Aku langsung telfon suamiku, dia langsung menenangkan aku…seandainya memang harus begitu jalannya ya jalanin aja..

Sampai di apartemen aku langsung cari referensi tentang bagaimana kelahiran sungsang dan alternatif lain selain caesar. Aku cari lewat majalah, buku, sampai buka site2 di internet. Dari referensi yg aku dapatkan..bayi sungsang bisa juga dipijat/diputar dg teknik tertentu yg hanya boleh dilakukan oleh dokter yg berpengalaman/berkompeten. Berdasarkan info ini, begitu minggu ke 36 dan 37 dokter masih menyatakan sungsang..aku menyebutkan kemungkinan utk menggunakan metode putar itu. Dokter mengatakan prosedur itu bisa dilakukan tapi juga berisiko..selain sakit, jika metode itu tidak berhasil..maka saat itu juga bayi harus dilahirkan caesar. Aku pikir gak ada salahnya dicoba, aku pun oke.

Saat itu juga dijadwalkan untuk operasi caesar pd minggu ke 38 dg prosedur melihat posisi bayi secara persis dg USG 3 atau 4 dimensi, kemudian mencoba metode pijat/putar, baru jika tidak berhasil menggunakan operasi caesar.

Sejak tahu posisi bayi sungsang, aku melakukan berbagai cara juga utk mengusahakan posisi bayi normal, ibuku dan bbp teman menyebutkan mengepel lantai dg tangan, ada lagi yg menyebutkan sujud dg posisi perut menyentuh lantai, bbp hal yg kira2 masuk akal aku lakukan, tidak lupa aku sertai dg doa, keikhlasan, dan positif thinking. Kadang-kadang saking deg2annya, sambil berharap2 cemas.. aku sering ngomong sama calon bayiku sambil mengusap-usap perut…"nak…kalo kamu pengen lahir normal… tolong dong berputar"

Masuk minggu ke 38, hari H jadwal caesar dan prosedur pijat/putar datang. Aku ditemani suami datang ke RS, sepanjang jalan aku berdoa dan membaca ayat kursi. Sampai di RS aku langsung dibawa ke ruang bersalin..wah rasanya deg2an banget, dokter mengatakan harus di USG dulu biar jelas posisi bayinya bagaimana.

Sambil menunggu dokter..aku terus berdoa sambil membaca ayat kursi…dalam hatiku aku terus berusaha berkomunikasi dg calon bayiku…"ayo dong muter"… "bunda pengen ngelahirin kamu secara normal..bukan caesar…tolong dong"…

Pas dokter datang sambil membawa mesin USG, aku tambah deg2an…tapi sambil membaca ayat kursi aku berusaha tenang…bersama2 suami aku melihat dokter memutar2 alat usg itu di atas perutku, sayang aku tidak bisa melihat dg jelas layar usg itu, tapi suamiku mengatakan ia melihatnya dg jelas…

Alhamdulillah..dg muka agak sedikit heran dan bingung (seolah ia mengatakan ajaib) dokter menyebutkan bayiku sudah berada di bawah pada posisi normal dan siap dilahirkan. Wuah leganya aku dan suamiku. Perasaan kami tidak dapat dibayangkan. Apalagi dokter menyebutkan kalo semua prosedur berarti tidak jadi dilakukan, tinggal menunggu saat2 kelahiran normal aja. Akhirnya kami pulang dg perasaan lega..