Aku ingat betul hari itu hari Kamis, tgl 18 April 2002, kalo gak salah dua hari setelah aku dari RS setelah tadinya dijadwalin caesar karena posisi bayi sungsang (baca kehamilan anak pertamaku), salah seorang teman suamiku dan istrinya menelponku…mereka sedang berada tak jauh dari apartemenku…mereka mengajakku makan siang… tumben… sepanjang aku kenal belum pernah lho mereka mengajakku atau suamiku makan…tapi entah kenapa kali ini saat suamiku sedang kerja..Aku bilang oke asal suamiku mengijinkan..akhirnya kutelepon suamiku…oke kata suamiku..
Dijemputlah aku, kami makan seafood di sebuah restoran chinesse buffet. Menurut mereka…kasihan sama aku bengong sendirian menunggu suami pulang kerja… padahal mereka sepertinya pengen tahu tanda2 kehamilan dan proses kehamilan bagaimana…si istri sepertinya punya tanda2 hamil tapi mereka masih ragu2, mereka udah 2 tahun menikah.
Setelah ditraktir siangnya, malamnya aku, suamiku, dan teman suamiku yg lain ngobrol sampai malam di ruang tamu…sampai sekitar pukul 11 malam lebih aku merasa nggak enak perut..kog mulas2 nih…aku pun ke kamar mandi.."pub" (maaf) tapi kira2 15 menit kemudian aku mules lagi…masuk kamar mandi…begitu terus sampai kira2 1 jam..sampai aku dan suamiku masuk kamar mau tidur..aku justru makin merasa tidak nyaman..kog perut tambah nggak enak..mulesnya tambah parah…dan sakit…
Bolak balik ke kamar mandi suamiku curiga.."kamu kenapa bolak balik ke kamar mandi terus?" akhirnya ia mengikutiku sampai kamar mandi..saat dia melihat "cd"ku ada fleknya ia langsung bilang…"wah ada darahnya…ke rumah sakit yuk..jangan2 udah mau ngelahirin.."
Aku baru 38 minggu, aku merasa belum waktunya ah…tapi aku bilang sama suamiku..bisa jadi iya..soalnya bbp hari yg lalu aku telfon mama tanya tanda2 mau melahirkan bagaimana…mama bilang kalo mules2 dan biasanya keluar flek..
Dari buku, majalah, dan situs2 internet yg aku baca menyebutkan kalo tanda2 melahirkan yg sebenarnya (karena ada juga tanda2 yg palsunya) adalah kontraksi perut intensif dan konsisten, bergerak dari berapa kali per jam (2, 4, 6, dst) atau berapa menit sekali selama bbp jam, misalnya per 10 menit selama satu jam.
Aku dan suami sepakat memutuskan menunggu sampai hitungan menjadi 5 menit sekali selama satu jam. Sekitar pukul 1 malam lebih tak lama setelah kami masuk kamar dan aku makin merasa tak nyaman, akhirnya kami berangkat tanpa membawa persiapan yg banyak… berangkatlah kami…sepanjang jalan aku terus berdoa sambil menahan sakit dan membaca ayat kursi…hitunganku sudah sampai lima menit sekali.
Sampai di rumah sakit ditanya gimana tanda2nya, akhirnya aku dibawa ke ruang bersalin..di ruang ini lengkap sekali fasilitasnya, ada kamar mandi, monitor yg dihubungkan ke perut utk melihat kontraksi perut, tempat tidur yg nyaman yg juga dipakai saat melahirkan, fasilitas utk bayi baru lahir, tempatnya benar2 nyaman. Waktu baru masuk karena masih merasa mulas aku minta ke kamar mandi..awalnya sempat gak boleh..tapi dikasih ijin…dg catatan tidak boleh lama2, khawatir bayinya lahir di wc…
Saat diperiksa salah seorang bidan (midwife), ia kaget…ternyata aku udah pembukaan 6. Aku langsung ditawari epidural (suntik utk mengurangi rasa sakit, yg disuntik melalui tulang belakang), aku gak mau…padahal epidural boleh diberikan jika sudah pembukaan 4. Rata2 teman2 Indonesia yg pernah melahirkan di sini (Amerika) minta epidural. Berhubung aku mendengar dari salah seorang teman yg mengatakan saat disuntik sakit, aku jadi berpikir ulang utk mau disuntik epidural.. lagipula aku takut pengaruh obat itu ke bayiku. Efek epidural lainnya yg bikin nggak enak..sulit merasakan mulas saat melahirkan..jadi nggak tahu kapan harus mengejan…itu sebabnya dari bbp majalah & situs2 internet yg aku baca… umumnya ibu2 yg pake epidural proses melahirkannya lebih lama…bahkan ada yg 3 jam lebih…soalnya mereka kan nggak merasakan mulasnya…
So…aku konsisten utk menolak menggunakan epidural..aku pikir gak apa2 sakit… namanya orang melahirkan umum kog kalo sakit..Wah..padahal sakitnya luar biasa bayangkan tiap lima menit sekali merasakan kontraksi perut yg sangat kencang. Beruntung aku punya suami yg sangat baik dan mau mendampingi aku di saat2 seperti ini. Sepanjang proses kontraksi ia menemaniku, memegang tanganku saat aku kesakitan tiap kali kontraksi datang.
Selama menunggu waktu pembukaan lengkap 10, aku berusaha mengalihkan pikiran dan perasaan dg berkonsentrasi membaca ayat kursi dan meminta pertolongan Allah untuk memudahkan jalanku dan proses kelahiran anakku. Aku berusaha tenang dan berpikir positif.
Tiap 1/2 jam suster datang menawarkan epidural…aku selalu menjawab tidak… dan ia selalu bertanya ulang "are you sure?"…Aku jawab sambil menahan sakit "Sure"… akhirnya sampai ia sendiri menyerah..dan menggeleng2kan kepalanya sambil mengatakan…"kamu kuat sekali menahan rasa sakit"
Begitu sampai pembukaan 9 setelah 3 jam lebih sejak aku datang, salah satu dokter datang untuk memecahkan ketubanku…ia bilang agar lebih cepat… tapi tak lama kemudian… serombongan dokter dan bidan datang ke kamarku dan bersiap2 dg peralatan persalinannya…saat itu aku memang sudah mulai merasakan mulas hendak mengejan…dokter dan bidan mengajari cara mengatur pernapasan.
Saat mulas datang…aku disuruh mengejan..dihitung 1-10..tahan nafas, kemudian santai..ambil nafas…Begitu mulas lagi…hitung 1-10..tahan nafas sambil mengejan, santai…ambil nafas..begitu seterusnya sampai bayi lahir..
Suamiku sambil memegang tanganku juga membantu menghitung dan menyemangati aku untuk mengejan lebih kuat agar bayinya cepat lahir. Tiap kali mengejan ia selalu mengatakan…"dikit lagi non…udah keliatan kepalanya tuh… ayo…kamu bisa"..
Alhamdulillah sekitar 1/2 jam proses melahirkan akhirnya bayi pertamaku lahir juga dg selamat…hari Jum’at pkl 05.30 pagi….tgl 19 April 2002…
Suamiku yg melihat proses itu pertama kalinya benar2 takjub dg semua keajaiban Allah. Menurutnya bayi itu seperti balon yg saat melewati jalan lahir sangat2 elastis, begitu keluar dari pintu lahir…tiba2 membesar seperti balon baru ditiup. Subhanallah.